Rabu, 15 Mei 2013

Makalah filsafat bahaa positivisme


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Kehidupan kita sekarang ini sudah sangat jauh dari hukum-hukum alam, yang digantikan oleh hukum-hukum buatan manusia sendiri yang sangat egoistis dan mengandung nilai hedonis yang sangat besar, sehingga kita pun merasakan betapa banyaknya bencana yang melanda diri kita. Etika hubungan kita yang humanis dengan tiga kompenen relasional hidup kita sudah terabaikan begitu jauh, jadi jangan harap hidup kita di masa mendatang akan tetap lestari dan berlangsung harmonis dengan alam.
Makalah ini kami susun berdasarkan Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum, dengan sub bahasan “ Filsafat Positifisme ”. Makalah ini dititikberatkan pada pemikiran-pemikiran para folosof aliran positivisme.
1.2      Tujuan Pembahasan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memaparkan perkembangan-perkembangan filsafat modern pada saat lahirnya filsafat positifisme. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi pemahaman kita mengenai filsafat pada umumnya, dan filsafat positivism pada khususnya. Pada filsafat ini nanti akan kita bahas mengenai sejarah dari positivisme, dan tokoh-tokoh penganutnya. Selain itu juga akan kita bahas berbagai sub bab/pokok yang berkaitan dengan positivism. Sehingga diharapkan setelah membaca makalah yang kami susun ini,kita semua bisa mengetahui tentang positivisme itu sendiri dan dapat juga dapat mengambil hal positif untuk diplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

1.3     Rumusan Masalah
A.     Apa pengertian positivisme ?
B.     Apa ajaran yang ada dalam positivisme ?
C.    Pembagian tahap pemikiran manusia ?
D.     Apa saja filsafat dalam filsafat positivisme ?
E.   Siapa saja tokoh filsafat positivisme  ?
F.   Hakekat filsafat positivisme  ?
G.  Objek filsafat positivisme ?
H. Metode filsafat positivisme  ?
I.    Fungsi filsafat positivisme  ?
























BAB II
PEMBAHASAN


A.PENGERTIAN POSITIVISME
Positivisme diturunkan dari kata positif, dalam hal ini positivisme dapat diartikan sebagai suatu pandangan yang sejalan dengan empirisme, menempatkan penghayatan yang penting serta mendalam yang bertujuan untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan yang nyata, karena harus didasarkan kepada hal-hal yang positivisme. Dimana positivisme itu sendiri hanya membatasi diri kepada pengalaman-pengalaman yang hanya bersifat objektif saja. Hal ini berbeda dengan empirisme yang bersifat lebih lunak karena empirisme juga mau menerima pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau pengalaman-pengalaman yang bersifat subjektif  juga.[3]
B.AJARAN-AJARAN DALAM POSITIVISME
1.      Dalam alam terhadap hukum yang dapat diketahui.
2.      Dalam alam penyebab benda-benda tidakdapat diketahui.
3.      Setiap pernyataan yang pada prinsipnya tidak dapat direduksikan ke pernyataan sedehana mengenai fakta, baik khusus maupun umum.
4.      Hanya berhubungan antara fakta yang dapat diketahui.
5.      Perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan social.

C.TAHAP-TAHAP PEMIKIRAN MANUSIA
Menurut comte perkembangan manusia dibagi kedalam 3 tahap perkembangan yaitu yang pertama tahap teologik, kemudian berkembang ke tahap metafisika, dan akan berkembang ketahap yang terakhir yaitu tahap positif.[4] Dan kesemua hal itu akan dijelaskan lebih lanjut dengan beberapa pernyataan dibawah ini:
            1. TAHAP TEOLOGIK
            Tahap teologik bersifat melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam atau apa yang ada dibaliknya. Pada zaman ini atau tahap ini seseorang mengarahkan rohnya pada hakikat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terahir segala sesuatu. Menurutnya benda-benda pada zaman ini merupakan ungkapan dari supernaturalisme, bermula dari suatu faham yang mempercayai adanya kekuatan magis dibenda-benda tertentu, ini adalah tahap teologis yang paling primitif. kemudian mempercayai pada banyak Tuhan, saat itu orang menurunkan hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri. Dan kemudian menjadi monoteisme ini adalah suatu tahap tertinggi yang mana saat itu manusia menyatukan Tuhan-Tuhannya menjadi satu tokoh tertinggi. Ini adalah abad monarkhi dan kekuasaan mutlak. Ini menurutnya adalah abad kekanak-kanakan.[5]

            2. TAHAP METAFISIK
            Tahap metafisik sebenarnya merupakan suatu masa dimana disini adalah masa perubahan dari masa teologik, dimana pada masa teologik tersebut seseorang hanya percaya pada satu doktrin saja dan tidak mencoba untuk mengkritisinya. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai bertanya-tanya dan mulai untuk mencari bukti-bukti yang nyata terhadap pandangan suatu doktrin. Tahap metafisik menggunakan kekuatan atau bukti yang nyata yang dapat berhubungan langsung  dengan manusia. Ini adalah abad nasionalisme dan kedaulatan umum sudah mulai tampak, atau sring kali tahap ini disebut sebagai abad remaja.[6]
            3. TAHAP POSITIF
Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada tahap ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Pada tahap ini orang berusaha untuk menemukan hukum dari segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang pada akhirnya akan menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Pada tahap ini menerangkan berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum.[7]
            3 tahap ini menurut Comte adalah suatu tahap yang berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, bahkan berlaku bagi setiap masing-masing individu itu sendiri. Ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandangnya  akan  lebih menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati manusia.
Oleh karena itu baginya Teologi dan filsafat barat abad tengah merupakan pemikiran primitive. Karena masih pada taraf pertanyaan tentang teologi dan metafisis.[8]
Pengetahuan positivisme mengandung arti sebagai pengetahuan yang nyata, berguna, tertentu dan pasti.[9] Akal dan ilmu menurut Comte harus saling berhubungan karena ilmu yang menurutnya serapan dari sesuatu yang positif tetaplah harus memakai akal dalam pembandingannya, dan disini etika telah di anggap tinggi dalam heirarki ilmu.[10]



D.Dua fase filsafat positifistik
dua fase filsafat positifistik dalam masyarakat terdapat dua fase yaitu statika social dan yang selanjutnya adalah dinamika social yangakan lebih dijelaskan melalui pernyataan dibawah ini:
1.      Statika Sosial adalah masyarakat sebagai kenyataan dengan kaidah-kaidah yang menyusun tatanan social. Ini adalah saat dimana masyarakat mulai tersusun atau terbangun.
2.      Dinamika social yang artinya masyarakat pada saat itu berada dalam penciptaan sejarahnya dan mulai menanjak dalam kemajuannya.[11]

KEDUDUKAN ILMU PASTI DAN PSIKOLOGI
Menurut Comte ilmu pasti merupakan dasar dari filsafat karena ia memiliki dalil-dalil yang bersifat umum dan paling abstrak. Sedangkan psiologi tidak diberi ruang dalam system comte. Hal ini sesuai dengan pendapatnya bahwa manusia tidak akan pernah menyelidiki diri sendiri.[12]
TINGKATAN AGAMA MENURUT COMTE
Comte telah menciptakan suatu kristianitas yang baru berdasarkan dirinya sendiri. Ia membagi kedalam 3 agama:
1. Agama yang pertama adalah penghormatan atas alam. Semua adalah Tuhan
2. Agama yang kedua adalah penyembahan terhadap kaidah moral sebagai kekuasaan.
3. Agama yang ketiga adalah kekuasaan yang tidak terbatas yang terungkap dalam alam yang merupakan sumber dan akhir dari cita moral. Moralitas adalah hakikat dari benda-benda.[13]
E.TOKOH-TOKOH DALAM FILSAFAT POSITIVISME

a). Auguste Comte ( 1798 – 1857 )
           August Comte dilahirkan pada 1798 di Montpellier, Prancis. Pada umur belasan tahun ia menolak beberapa adat kebiasan dari keluarganya yang katholik orthodox, yaitu kesalehan dalam agama dan dukungan terhadap bangsawan. Ia belajar disekolah politeknik di Paris dan menerima pelajaran ilmu pasti. Sesudah menyelesaikan sekolahnya ia mempelajari biologi dan sejarah, dan mencari nafkah dengan memberikan les matematika. Comte bekerja sama dengan Saint Simon untuk beberapa tahun, tetapi kemudian berselisih faham dan Comte bekerja secara mandiri. Comte berusaha untuk memperoleh gelar professor tetapi tidak berhasil.[2]Sebuah karya penting “ Cours de Philisophia Positivie “ (Kursur tentang filsafat positif), ini berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoieh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan experiment. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat experiment-experiment memerlukan ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan, dsb. Kita tidak cukup mengatakan api panas, matahari panas, kopi panas. Ketika panas kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai.
            Jadi pada dasarnya positifisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan experiment dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positifisame itu sama dengan empirisme plot rasionalisme. Hanya saja, pada empirisme menerima pengalaman batiniyah, sedangkan pada positivisme membatasi pada perjalanan objektif saja.
            b). H. Taine ( 1828 – 1893 )
            Ia mendasarkan diri pada positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik, dan kesastraan.
            c). Emile Durkheim ( 1852 – 1917 )
            Ia menganggap positivisme sebagai asas sosiologi.
            d). John Stuart Mill ( 1806 – 1873 )
            Ia adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan system positivisme pada ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan.
F. HAKEKAT FILSAFAT POSITIVISME
            Apa sebenarnya hakekat dari filsafat positif ini ? mengapa memiliki hakekat seperti itu Dan bagaimana me­laksanakan hakekat tersebut Ditinjau dari keseluruhannya, filsafat positivisme:
1.      Dari segi karakteristiknya mengatakan bahwa ilmu ha­nya merupakan pengetahuan yang sahih dan fakta hanya merupakan objek pengetahuan yang mungkin.
2.    Ditinjau dari metodenya, menurut Nicolla Abbagano se­bagaimana disadur oleh Paul Edwards dalam The Ency­clopedia of Philosophy (1972 : 414) mengatakan bahwa filsafat ini memiliki metode yang tak berbeda dengan sains. Dan karena itu task of philosophy is to find the general principles common to all the sciences.
3.    Prinsip kerjanya menggunakan tata cara kerja Francis Bacon, yang seorang Inggris yang berpandangan empiris.
4.    Hakekat perkembangan dari filsafat ini ditunjang karena terjadinya revolusi industri. Dengan demikian, maka setiap terjadi revolusi sebenarnya merupakan kesempatan untuk menghadirkan ide baru. Dalam kegiatan revolusi, orang pada kehilangan pegangan, dan keha­diran filsafat seperti positivisme ini merupakan gin segar untuk menyejukan situasi.
5.      Secara mendasar positivisme lebih mengutamakan fakta atau kenyataan, atau segala yang tampak. Dengan kata lain, ditinjau dari segi sasarannya adalah segala gejala.    Kalau demikian maka sebenarnya positivisme ini mengabaikan hukum yang telah ada. Karena keha­diran hukum itu setelah gejala yang ada diolah, di­klasifikasikan. Di sini hakekat filsafat ini sebenar­nya kejelian dalam mengamati, dan ketajaman penga­matan dalam menyimpulkan hasil pengamatannya. Oleh sebab itu, tak ayal lagi kehadiran suatu teori hanya mungkin apabila orang telah melihat gejala, dan geja­la tadi dipikirkan, sehingga diperoleh hukum-hukum. Berkenaan dengan itu apa bedanya dengan empirismeMemang keduanya memiliki kesamaan di samping perbedaan. Kesamaannya mengutamakan pengalaman. Sedangkan perbedaannya positivisme membatasi diri pada penga­laman-pengalaman yang objektif, tetapi empirisme me­nerima pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalam­an-pengalaman subjektif (Hadiwiyono 1980:110)
6.      Ruang lingkup positivisme, sebenarnya ada dua saja, yaitu positivisme sosial dan positivisme evolusionary. Mengapa dikatakan positivisme sosial, karena melihat ciri utamanya        masalah-masalah sosial. Sedangkan mengapa dikatakan positivisme evolusionary, karena keadaannya bersifat teoritis. Dan karena itu, cara kerja dalam filsafat positivisme ini sendiri memiliki perbedaan. Bagaimana perbedaannya ? Yang satu bersumber kepada peristiwa-peristiwa sosial dan yang lain bersumber kepada peristiwa-peristiwa alam.
7.      Untuk memahami filsafat positivisme ini, menurut Koento Wibisono (1983 37 - 38) perlu memahami pengertian positif, yang menurut beliau (1) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang bersifat kha­yal, maka pengertian positif diartikan sebagai pensifatan yang nyata. Hal ini sesuai dengan ajarannya yang menyatakan bahwa filsafat posi­tivisme itu, dalam menyelidiki objek sasarannya didasarkan pada kemampuan akal, sedangkan hal­ hal yang tak dapat dijangkau oleh akal tidak akan dijadikan sasaran penyelidikan. (2) Seba­gal lawan dari tidak bermanfaat, maka pengetian positif diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang bermanfaat. Hal ini sesuai dengan ajarannya yang menyatakan bahwa di dalam filsafat positivisme, segala sesuatu harus diarahkan kepada pencapaian kemajuan. (3) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang meragukan, maka pengertian positif, diartikan sebagai pensifat­an sesuatu yang sudah pasti. Hal ini sesuai dengan ajarannya yang menyatakan bahwa filsafat harus sampai pada suatu keseimbangan yang logis yang membawa kebaikan bagi setiap individu dan masyarakat. (4) Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang kabur, maka pengertian positif diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang (jelas) atau tepat, baik mengenai gejala-gejala yang nampak maupun mengenai apa yang sebenarnya kita butuhkan, sebab cara berfilsafat yang lama hanya memberikan pedoman yang tidak jelas, dan hanya mempertahankan disiplin yang diperlukan dengan mendasarkan diri pada kekuatan adikodrati. (5) Sebagai lawan atau kebalikan se­suatu yang negatif, maka pengertian positif di­pergunakan untuk menunjukkan sifat-sifat pandangan filsafatnya yang selalu menuju ke arah penataan atau penertiban.

G. OBJEK FILSAFAT POSITIVISME
          Objek filsafat ini dapat kita lihar dari segi mate­lnya dan f ormanya.
      1.Objek filsafat dari segi materi dari filsafat posi­tivisme ini berkaitan dengan Alam, manusia, baru dengan Tuhan.
Objek forma ini dapat diketahui dari hukum tiga tahap yang dikemukakan oleh August Comte, yaitu tahap teo­logis, tahap metafisis, dan tahap positif. Pada ta­hap teologis menurut penafsiran Harun Hadiwiyono (1980 : 110-111) orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniah.Tahap teologi ada tiga tahap lagi yaitu 
a)      Tahap yang paling bersahaja  atau primitif.
b)      Tahap        politeisme yaitu tahap percaya kepada dewa-dewa, dan
c)       Tahap monoteisme.
Ditinjau darisegi ajarannya, filsafat ini mengung­kapkan mengenai peristiwa alam, biologi, fisika, sehingga NicolaAbbagnano sebagai penterjemah membagi positivisme ke dalam dua bagian besar yakni positi­visme sosial dan positivisme evolusionary, maka dengan demikian objek filsafat positivisme meliputi juga masalah-masalah kemanusiaan dan kealaman.
2.      Objek filsafat dari segi forma
Dari segi forma kedudukan filsafat bisa dilihat mengenai upaya filsafat tersebut dalam mencari kete­rangan yang sedalam-dalamnya mengenai materi .atau objek filsafat tersebut, termasuk didalamnya filsafat positivisme ini.
Berangkat dari positivisme ala Comte, Koento Wibisono (1983 32) mengatakan bahwa Auguste Comte merupa­kan jembatan antara rasionalisme Descartes dan empi­risme Bacon. Dikatakan demikdan karena Rene Descartes dan empirisme Bacon. Dikatakan demikian karena Rene Descartes sebagai peletak dasar filsafat modern serta penganut faham rasionalisme berpendapat bahwa ilmu pasti merupakan bentuk, kemana semua ilmu pengetahuan harus dijabarkan. Ini berarti suatu monisme ilmu pasti, yang dengan demikian batas-batas antara ilmu yang satu dengan yang lain akan menjadi hilang, sebab semua pengertian dinyatakan dalam dalil-dalil atau rumus-rumus. Sebaliknya Francis Bacon, yang menggunakan asas psikologik, yaitu hu­bungan antara manusia dengan dunia pengalaman. Ia membedakan tiga fungsi kejiwaan, yaitu ingatan, fantasi, dan pengertian. Bertolak dari ketiga pemba­gian kejiwaan itu, Bacon mengadakan pembagian ilmu pengetahuan dan juga pembagian ilmu pengetahuan seca­ra menyeluruh.
Objek lainnya dari Comte sesuai dengan trinitas mengenai jenis keagamaan, maka objek filsafat positivisme ini adalah kemanusiaan, dunia, dan ruang. Obiek forma berdasarkan pendapat Bentham dan Mills yaitu mengenai il-mu pengetahuan eksakta. Mill mem­persamakan pikiran manusia sebagai objek yang dapat dipelajari, sebagaimana kita mempelajari       gejala alamiah.
Sedangkan objek forma positivisme evolusionary adalah alam, lingkungan fisik dan biologi. Keadaan tersebut diungkap mengenai hetroginitas dan homoginitasnya. Bagaimana kemisterian dari alam ini, merupakan salah satu objek dari filsafat positivisme evolusionary. Sehingga sebagai contoh Spencer menterjemahkan proses evolusi dalam pengertian gerak dan kesadaran, sehing­ga dapat ditafsirkan secara spiritualistik dan mate­rialistik.

H. METODE FILSAFAT POSITIVISME
          Menurut Koento Wibowo (1983 : 39) filsafat posi­tivisme menggunakan metode pengamatan, percobaan dan per­bandingan, kecuali dalam menghadapi gejala dalam fisika sosialdigunakan metode sejarah.
          Pengamatan digunakan untuk mempelajari astronomi, kesemuanya ini berkaitan dengan ukuran waktu dan adapun untuk ilmu fisika disamping pengamatan juga digunakan percobaan, dalam percobaan ini pengamatan tak ketinggalan. Dalam mempelajari ilmu kimia disamping percobaan dan pengamatan,  digunakan juga metode peniruan (artifisial). Dalam ilmu biologi menggunakan metode per­cobaan, yang disesuaikan dengan kompleksitasnya gejala, maupun dalam sosiologi, digunakan pengamatan, percobaan, dan perbandingan, dan bahkan metode sejarah, ini diguna­kan untuk menguraikan gejala-gejala yang kompleks.

I. FUNGSI FILSAFAT POSITIVISME
          Berdasarkan uraian pada bagian terdahulu kiranya dapat dikatakan mengenai, fungsi filsafat positivisme yaitu :
1.     Perkembangan yang diberi konotasi sebagai kemajuan memberikan makna bahwa positivisme telah mempertebal optimisme. Hal tersebut melahirkan pengetahuan yang positif yang terlepas dari pengaruh-pengaruh spekula­tif, atau dari hukum-hukum yang umum. Berkat pandangan positivisme orang'tidak sekedar menghimpun fakta, tapi ia berupaya meramal masa depan, yang antara lain turut mendorong perkembangan teknologi
2.           Kemajuan dalam bidang fisik telah menimbulkan berba­gai implikasi dalam segi kehidupan. Dengan kata lain, fungsi filsafat positivisme ini berperan sebagai pen­dorong timbulnya perkembangan dan kemajuan yang dira­sakan sebagai kebutuhan.
3.     Dengan adanya penekanan dari filsafat positivisme terhadap segi rasional ilmiah, maka berfungsi pula kemampuannya untuk menerangkan kenyataan, sedemikian rupa sehingga keyakinannya akan kebenaran semakin terbuka.
4.     Kelemahan positivisme antara lain : (a) Hanya mampu melihat manusia sebagai realitas barang atau benda, dan kurang mampu melihat segi subjektifitasnya, se­hingga dapat menjangkau aku, dari kehidupan yang se­benarnya. (b) Faham positivisme kurang mampu men­jangkau segi historitas manusia yang mengantarkan cara berpikir dan beraspirasi atau memiliki pandangan tentang sesuatu. Sehingga diketahui bahwa sebenarnya dengan aspirasi tadi manusia akan dapat menuju kepada kemungkinan-kemungkinan baru.  (c) Faham positivisme tidak  mampu menghayati manusia dalam hakekatnya yang monopluralistikyaitu kesatuan atau keutuhan organik dari unsur-unsur yang tarafnya kimiawi, biologik,  serta berakal, berasa, dan berkehendak.
            Selain positivisme, kita kenal pula bentuk-bentuk sekarang mengenai positivisme, seperti positivisme, neopositivisme, positivisme kritis, atau disebut empiriocritisisme.
            Neopositivisme ini dikembangkan oleh kelompok Wina, yakni kelompok sarjana ilmu pasti dan ilmu alam yang pada daswarsa 20-an abad ke 20 mengecam filsafat yang berco­rak rasional empiris belaka juga yang spiritual saja. Usaha kelompok Wina ini memperbaharui positivisme abad karya Agus Comte dan pengikutnya, yang dianggap diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi teo1ogi yang mengarah kepada absolutisme.
          Neopositivisme Wina menganggap bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengalaman yang diatur menjadi­ ilmu alam dan ilmu pengetahuan yang akan mendapatkan perannya yang nyata. Tugas filsafat adalah membina dan menghilangkan segala bentuk filsafat semu yang tak dapat  memenuhi predikat serta mendukung ilmu pengetahuan. Menurut kelompok Wina, pengetahuan dianggap wajar apabila mendasarkan dirinya pada pengamatan. Kelompok ini menge­mukakan azas pembenaran yang mengatakan tidak ada pengetahuan yang dianggap wajar, kecuali dengan adanya pengamatandan dalam pengamatanpun tergantung kepada ada-tidaknya hasil pengamatan yang dibenarkan dan diperiksa  secara empirik.
            Neopositivisme mencita-citakan serta mempersiapkan berkembangnya unified science yaitu ilmu pengetahuan yang utuh. Kesulitan yang dihadapi kelompok neopositivis antara lain kapan basil pengamatan itu terpercaya, bagaimana menerapkan azas pembenaran, serta kapan pula sejumlah pengamatan cukup diteliti agar pernyataan umum dapat dipercayai.
        Sebagaimana halnya filsafat lain, Neopositivisme memi1iki kelemahan,        yang antara lain dikritik oleh Poppler. Menurut Popperpada neopositivisme tak ada pengamatan dan pemeriksaan empiris yang tertuju dan terarah pada dua tindakan tersebut tanpa suatu prasangka. Justru cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan memperlihatkan hal itu secara nyata. Popper tidak membedakan ada tidaknya ilmu dan ungkapan ilmiah.. Pendirian neopositivisme tentang azas pembenaran untuk menentukan apakah suatu ungkapan mempu­nyai arti, ditolak Popper dianggap sebagai sebuah teori yang tidak mendasar bahkan cenderung sebagai ideologi.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada hakikatnya Positifisme adalah salah satu aliran filsafat modern yang berpangkal dari fakta yang positif.
Di negeri Perancis, telah muncul aliran baru, yaitu "positivisme", yang ditikohi oleh Auguste Comte (1798 – 1857).  Menurut Comte, jiwa dan budi adalah basis dari teraturnya masyarakat. Maka, jiwa dan budi haruslah mendapatkan pendidikan yang cukup dan matang. Dikatakan bahwa sekarang ini sudah masanya harus hidup dengan pengabdioan ilmu yang positif, yaitu matematika, fisika, biologi, dan ilmu kemasyarakatan. Adapun yang tidak positif tidak dapat kita alami, dan sebaliknya orang bersikap tidak tahu menahu.
Adapun budi itu mengalami tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkatan teologi, yang menerangkan segala sesuatu dengan pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab yang melebihi kodrat; tingkatan kedua adalah tingkatan metafisika, yang hendak menerangkan segala sesuatu melalui abstraksi; tingkatan ketiga adalah tingkatan positif, yang hanya memperhatikan yang sungguh-sungguh serta sebab yang sudah ditentukan.
Tokoh-tokoh dalam positivisme antara lain adalah H.Taine (1828 – 1893), yang mendasarkan diri pada positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik dan kesastraan. Emile Durkheim (1858 – 1917), yang mengaggap positivisme sebagai asas sosiologi. John Stuart Mill (1806 – 1873), seorang filosof  Inggris yang menggunakan system positivisme pada ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan.




DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi, Asmoro. 1995. Filsafat Umum. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa
         Peurseun, V,  1986, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Tiara Wacana 
Bagus, Lorens. 1991. Metafisika. Jakarta : Gramedia
Wibisono, Koento,  1983, Arti Perkembanqan Menurut Filsafat Positivisme Auquste Comte, Yogyakarta :  Gajah Mada University Press
Bertens, K. 1973. Sejarah Filsafat Yunani. Jakarta : Kanisius
Suhartoni, Suparlan. 2005. Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Jogjakarta : Ar-Ruzz
http://staff.blog.ac.id

http://united-akhied.blogspot.com/2012/11/filsafat-positivisme-auguste-comte.html



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar